Pelaku Pasar Wait and See, Rupiah Lanjut Turun

Berita160 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah sikap wait and see pelaku pasar menunggu data dari Bank Indonesia (BI) dan harga komoditas yang menurun.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah dibuka melemah di angka Rp15.528/US$ atau terdepresiasi 0,05%. Pelemahan ini terjadi sebanyak enam hari beruntun sejak 2 Januari 2024.

Sementara DXY pada pukul 8.49 WIB naik tipis 0,01% menjadi 102,21. Angka ini lebih tinggi dibandingkan penutupan perdagangan Senin (8/1/2024) yang berada di angka 102,20.


Hari ini BI akan merilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia periode Desember 2023. IKK diproyeksi akan ke angka 124 dibandingkan capaian pada November di posisi 123,6.

Peningkatan IKK pada Desember kemungkinan besar karena ada peningkatan daya beli masyarakat lantaran seasonality natal dan tahun baru (nataru).

Sebagai catatan, nilai IKK secara nasional masih menunjukkan angka di atas 100 yang berarti keyakinan konsumen masih optimis.

Pada November 2023, IKK RI turun menjadi 23,6 dibandingkan sebulan sebelumnya yang tercatat di 124,3. IKK Indonesia memang tercatat masih berada di zona optimis. Akan tetapi terjadi penurunan terhadap sejumlah faktor pembentuk.

Keyakinan konsumen dalam pembelian durable goods atau barang jangka lama menurun terutama pada responden dengan tingkat pengeluaran Rp1-2 juta. Dilihat dari kelompok usia, penurunan Indeks Pembelian Durable Goods terdalam terjadi pada kelompok usia di atas 60 tahun.

Hal tersebut membuat pelaku pasar memilih bersikap wait and see terlebih dahulu.

Lebih lanjut, kendati diproyeksikan IKK mengalami kenaikan, namun tekanan terhadap rupiah tetap hadir dari penurunan harga komoditas andalan Indonesia.

Baca Juga  Dongkrak Penjualan Motor Listrik, UNTD Lakukan Hal Ini

Harga energi kembali ambruk pada perdagangan kemarin, mulai dari minyak, gas, hingga batu bara. Harga jatuh karena melemahnya permintaan global, tingginya pasokan, serta kebijakan pemangkasan harga minyak oleh Aran Saudi.

Pada perdagangan Senin (8/1/2024), harga minyak brent jatuh 3,3% menjadi US$76,19 per barel sementara WTI jeblok 4,3% ke US$70,63 per barel.

Harga batu bara juga melemah 0,6% ke US$129,75 per ton dan harga gas alam Eropa jeblok 8,6%.

Hal tersebut berdampak negatif kepada nilai tukar mata uang Garuda mengingat hal ini dapat membuat neraca dagang Indonesia kembali berada di bawah US$3 miliar dan berdampak transaksi berjalan yang kembali melanjutkan tren defisitnya.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Dolar AS Masih Terus Menguat, RI Waspada Tsunami Ekonomi

(rev/rev)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *