Minat Asing Koleksi SBN Capai Rp10 T, Rupiah Bisa Dapat Obat Kuat?

Berita29 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah data inflasi Jepang di atas ekspektasi dan twin defisit dialami Indonesia.

Namun, ada kemungkinan gerak rupiah bakal dapat pemanis dari hasil lelang surat utang negara (SUN) yang ciamik lantaran asing banyak masuk ke SBN. .

Melansir dari Refinitiv, rupiah pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa (27/2/2024) melemah 0,06% ke posisi Rp15.635/US$. Depresiasi ini melanjutkan pelemahan yang terjadi satu hari sebelumnya sebesar 0,22% dan menjadi penurunan selama tiga hari beruntun.

Kemarin Jepang merilis data laju inflasi tahunan sebesar 2,2%. Angka ini meskipun melandai dibandingkan periode sebelumnya, namun masih di atas konsensus yang berada di angka 1,8% yoy.

Inflasi yang terus menurun karena konsumsi yang melambat dinilai wajar di Jepang, karena warga Jepang cenderung lebih suka menabung dibandingkan belanja.

Inflasi Jepang yang melandai menunjukkan perekonomian Negeri Sakura ini belum begitu kuat padahal suku bunganya sudah sangat rendah. Hal ini dapat berdampak negatif bagi negara di Asia lainnya termasuk Indonesia.

Sementara dari dalam negeri, pada kuartal IV-2023 tercatat transaksi berjalan Indonesia mengalami pelebaran defisit menjadi US$1,3 Miliar sementara secara keseluruhan tahun 2023 defisitnya mencapai US$1,6 Miliar atau 0,1% dari PDB.

Di sisi lain Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023 defisit sebesar Rp347,6 triliun atau 1,65% dari produk domestik bruto (PDB).

Ekonom CIMB Niaga, Mika Martumpal mengatakan twin deficit kerap berdampak negatif ke pasar keuangan RI, meski faktor suku bunga dan prospek pertumbuhan global turut mempengaruhi stabilitas pasar.

Selain itu, potensi terjadinya defisit APBN yang lebih dalam semakin besar terjadi mengingat keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) maupun listrik pada tahun ini setidaknya hingga Juni 2024.

Baca Juga  Keputusan The Fed-BI Dinanti, Rupiah Sentuh Rp15.700-an Per USD

“Tadi diputuskan dalam sidang kabinet paripurna tidak ada kenaikan listrik, tidak ada kenaikan BBM sampai Juni, baik itu yang subsidi maupun non subsidi,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di kantornya, Jakarta, Senin (26/2/2024).

Oleh sebab itu, ia mengatakan, defisit APBN akan melebar dari yang ditetapkan, 2.29% dari PDB pada tahun ini, menjadi sekitar 2,8%. Seiring dengan adanya penambahan kebutuhan anggaran untuk beberapa pos anggaran.

Sentimen defisit yang bertubi-tubi ini dapat mempengaruhi perspektif investor khususnya asing untuk berinvestasi di dalam negeri karena kondisi perekonomian Indonesia yang dianggap kurang baik.

Kendati begitu, khususnya pada hari ini rupiah setidaknya masih akan mendapatkan sentimen positif dari masuknya dana asing yang cukup besar dari hasil lelang SUN yang sesuai ekspektasi.

Melansir data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, hasil lelang SUN pada kemarin, Selasa (27/2/2024) menunjukkan minat asing masuk lebih dari dua kali lipat dari lelang sebelumnya, mencapai Rp10,40 triliun dengan nilai serapan Rp3,63 triliun.

Asing banyak banyak memburu obligasi acuan dengan tenor 5 tahun dengan rata-rata imbal hasil yang dimenangkan sebesar 6,51% dan kupon sebesar 6,87%.

Teknikal Rupiah

Kendati melemah lagi, secara teknikal dalam basis waktu per jam gerak rupiah masih terbilang stabil atau bergerak terkonsolidasi dari rentang support di Rp15.585/US$ hingga resistance di Rp15.680/US$.

Sebagai catatan, posisi support tersebut didapatkan dari garis horizontal yang pernah diuji low candle intraday pada 22 Februari 2024. Sementara resistance ditarik dari garis lurus berdasarkan high candle intraday 7 Februari 2024.

Foto: Tradingview
Pergerakan rupiah melawan dolar AS

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]

(tsn/tsn)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *