IHSG Tak Bertenaga, Deretan Saham Ini Jadi Penekannya

Berita43 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau kembali melemah pada perdagangan sesi I Senin (4/3/2024), di tengah mulai keluarnya investor asing dari pasar keuangan dalam negeri.

Hingga pukul 12:00 WIB, IHSG turun 0,16% ke posisi 7.300,41. Meski terkoreksi, tetapi IHSG masih bertahan di level psikologis 7.300. Namun jika di sesi II koreksinya makin membesar, bukan tidak mungkin IHSG kembali menyentuh level psikologis 7.200.

Nilai transaksi indeks pada perdagangan sesi I hari ini mencapai sekitar Rp 3,7 triliun dengan melibatkan 10 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 747.923 kali.

Secara sektoral, sektor teknologi menjadi pemberat terbesar IHSG di sesi I hari ini, yakni mencapai 0,95%.

Beberapa saham turut memperberat (laggard) IHSG pada sesi I hari ini. Berikut saham-saham yang menjadi laggard IHSG.

Emiten Kode Saham Indeks Poin Harga Terakhir Perubahan Harga
Bank Rakyat Indonesia (Persero) BBRI -5,86 6.075 -0,82%
GoTo Gojek Tokopedia GOTO -4,15 67 -2,90%
Bank Central Asia BBCA -3,43 9.775 -0,51%
Bank Mandiri (Persero) BMRI -2,29 7.000 -0,36%
Bank Negara Indonesia (Persero) BBNI -1,82 5.850 -0,85%
Indah Kiat Pulp & Paper INKP -1,29 8.700 -3,06%

Sumber: Refinitiv

Terpantau empat saham perbankan raksasa menjadi pemberat IHSG di sesi I hari ini, dengan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi pemberat terbesar yakni mencapai 5,9 indeks poin.

IHSG kembali melemah di tengah mulai keluarnya investor asing dari pasar keuangan dalam negeri.

Bank Indonesia (BI) mengumumkan bahwa investor asing tercatat melakukan jual neto Rp 2 triliun terdiri dari jual neto Rp 0,82 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN), jual neto Rp 2,64 triliun di pasar saham, dan beli neto Rp 1,46 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) berdasarkan data transaksi 26-29 Februari 2024.

Baca Juga  Newsworkers speak off-screen video Tiktok

Selain itu, guncangan dari eksternal baik dari China dan AS pun masih menjadi perhatian pelaku pasar.

China sebagai negara terbesar di Asia yang memiliki dampak besar bagi negara tetangganya, diperkirakan memiliki pertumbuhan ekonomi yang kurang dari 5% di tahun ini.

Hal ini terjadi di tengah krisis properti yang melanda, tingkat pengangguran kaum muda yang cukup tinggi bahkan sempat menyentuh 21,3% pada Juni 2023. Tidak sampai di situ, jumlah utang yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan produk domestik bruto (PDB) juga memberikan tekanan.

Sementara negara maju lainnya yakni Jepang dan Inggris tercatat mengalami resesi atau dengan kata lain pertumbuhan PDB berada di zona negatif di kuartal tiga dan empat secara beruntun.

Adapun bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) belum juga menunjukkan tanda akan memangkas suku bunga setelah inflasi masih panas.

Inflasi AS menembus 3,1% (year-on-year/yoy) pada Januari 2024, melandai dari 3,4% pada Desember 2023 tetapi jauh di atas ekspektasi pasar (2,9%). Kabar baik baru datang pada Kamis pekan ini setelah data inflasi pengeluaran konsumen pribadi AS melemah.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Habis Cetak Rekor IHSG Balik Lesu, Saham Ini Biang Keroknya

(chd/chd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *