Hadiri WEF 2024, Dirut BRI Ungkap Peran Holding Ultra Mikro

Berita154 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Direktur Utama BRI Sunarso menghadiri gelaran World Economic Forum (WEF) 2024 di Davos, Swiss. WEF tahun ini mengusung tema “Rebuilding Trust” dengan empat agenda prioritas yakni keamanan dunia (Achieving Cooperation and Security in a Fractured World), penciptaan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja (Creating Growth and Jobs for New Era), penggunaan Artificial Intelligence (AI) untuk mendorong ekonomi masyarakat, serta keberlanjutan terkait perubahan iklim, alam dan energi (A Long Term Strategy for Climate, Nature and Energy).

Sunarso mengungkapkan, salah satu tema yang yang dibawa WEF, yakni ‘creating growth and jobs for new era’, relevan dengan BRI dalam upaya pemberdayaan UMKM.

Sunarso mengungkapkan bahwa sesuai kajian Bappenas (2023), dalam dua dekade ke depan, tepatnya pada 2045 Indonesia akan mencapai usia emas 100 tahun. Pada 2041, Indonesia diperkirakan menjadi negara berpendapatan tinggi (high income), dengan syarat rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 6%.

Namun demikian, sesuai dengan yang diungkapkan LPEM FEB UI (2023), karena kondisi perekonomian global yang kurang mendukung, pertumbuhan ekonomi Indonesia stagnan di kisaran 5% per tahun, pertumbuhan kredit nasional pun tidak lebih dari 15%, dan tingkat kemiskinan ekstrem persisten di angka 1,7%. Untuk menghadapi tantangan tersebut, Sunarso menegaskan diperlukan mesin pertumbuhan ekonomi baru agar Indonesia dapat tumbuh lebih cepat.

Dia menegaskan BRI sebagai perusahaan BUMN, memiliki peran sebagai agent value creator dan agent of development. Agar dapat menjalankan fungsi tersebut secara simultan, BRI harus mencetak keuntungan.

“Dengan memperoleh keuntungan atau economic value, maka perusahaan BUMN bisa memiliki modal untuk menciptakan social value sehingga ekonomi akan berputar. Dan BRI sudah membuktikan bahwa selama ini bisa menjalankan peran economic value dan social value secara simultan. Salah satunya melalui keberadaan Holding Ultra Mikro yang beranggotakan BRI, Pegadaian dan PNM,” ungkapnya dikutip Rabu (17/1/2024).

Komitmen BRI dalam pemberdayaan UMKM tercermin salah satunya dari kinerja Holding Ultra Mikro yang hingga akhir Desember 2023 mencatat 37 juta nasabah peminjam yang terintegrasi. Keberhasilan BRI Group mengintegrasikan nasabah di segmen ultra mikro tersebut berdampak terhadap penurunan jumlah nasabah yang belum mendapatkan akses keuangan formal.

Baca Juga  Peneliti Harvard Sarankan BRI Perbanyak Beri Pinjaman ke Perempuan

Pada 2023, BRI Research Institute mengestimasikan bisnis UMi yang belum mendapatkan pembiayaan formal pun menurun dari 30 juta pada 2018 menjadi sekitar 14 juta (di mana 3-6 juta tidak terlayani, 4-5 juta lainnya mendapatkan pembiayaan dari teman/keluarga, dan 3-5 juta dari loan shark/rentenir).

Keberhasilan Holding Ultra Mikro juga diulas oleh Harvard Business Review pada pertengahan Desember 2023 lalu. Dalam artikel tersebut dibahas tiga fase utama integrasi UMi, yakni pemberdayaan/empower, integrasi/integrate, dan naik kelas/upgrade.

Berdayakan Pelaku Usaha Wanita di Segmen UMi

Di samping itu, dengan adanya sinergi holding UMi, PNM mampu menyalurkan Rp41,57 triliun kepada 15 juta pelaku usaha wanita melalui PNM Mekaar.

“Oleh karenanya PNM yang tergabung dalam Holding Ultra Mikro, kini pantas mengklaim dirinya sebagai group lending terbesar di dunia. Hal ini merupakan wujud BRI Group dalam melakukan pemberdayaan kepada wanita prasejahtera (underprivileged women) dan mendukung pencapaian SDGs khususnya yang terkait dengan kesetaraan gender,” jelas Sunarso.

Economy Sharing Lewat AgenBRILink

Di samping pemberdayaan pelaku usaha ultra mikro, Sunarso menjelaskan bahwa praktik economy sharing juga konsisten dilakukan BRI melalui keberadaan AgenBRILink. Hingga akhir Desember 2023 tercatat BRI memiliki lebih dari 740 ribu AgenBRILink.

Dari sisi transaksi, sepanjang 2023 AgenBRILink mencatatkan volume transaksi sebesar Rp 1.427 triliun dan memberikan fee-based income kepada BRI senilai Rp1,5 triliun. Bagi para Agen, nilai pendapatan yang mereka terima bisa mencapai 2-3 kali lipat yang diterima oleh BRI.

“Ini adalah bukti nyata bahwa keberadaan BRI mampu memberikan pekerjaan dan pendapatan bagi masyarakat,” ungkap dia.

Artificial Intelligence dalam Transformasi Digital BRI

Saat ini BRI mengaplikasikan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam proses bisnis dan operasional perseroan. Salah satu produk hasil transformasi digital BRI yakni BRIBRAIN.

BRIBRAIN merupakan “pusat otak digital” BRI yang mengkonsolidasikan kapabilitas AI dan analitik, untuk meningkatkan customer engagement, anti-fraud and risk analytics, credit underwriting, hingga automasi untuk smart services and operations.

Sunarso mencontohkan, AI Recommendation System yang dimiliki BRI telah diimplementasikan untuk memilih calon nasabah potensial berdasarkan data seperti jumlah simpanan, portofolio pinjaman, demografi dan lokasi. Dampaknya, penggunaan AI mampu meningkatkan conversion rate sebesar 60% dan meningkatkan kualitas akuisisi debitur sebesar 49%.

Baca Juga  Investor 'Chip In' ke Kripto, Pasar Terapresiasi

Contoh lain adalah pemanfaatan AI pada BRImo, AI digunakan dalam memberikan rekomendasi transaksi serta penawaran produk yang customize sesuai profil nasabah.

“Pemanfaatan AI tersebut terbukti mampu mengakselerasi kinerja BRImo, dan saat ini BRImo menjelma super apps yang digunakan oleh 31,6 juta users dengan volume transaksi mencapai Rp4.158 triliun atau tumbuh 55,8% yoy per Desember 2023,” ungkap Sunarso.

kedepankan Keberlanjutan Lewat ESG Hingga BRI Menanam

Sunarso mengungkapkan bahwa Environmental, Social and Governance (ESG) berperan untuk mendukung keberlanjutan kehidupan manusia serta mendorong tingkat kemakmuran.

“Hingga Kuartal III-2023, BRI menyalurkan kredit ke sektor Kategori Kegiatan Usaha Berkelanjutan (KKUB) sebesar Rp750,9 triliun atau sekitar 66,1% dari total penyaluran kredit BRI. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 11,9% yoy. Dari nominal tersebut, sebesar Rp669,1 triliun disalurkan ke sektor UMKM dan Rp81,8 triliun disalurkan ke sektor Kegiatan Usaha Berwawasan Lingkungan (KUBL),” tambah Sunarso.

Dari sisi environmental untuk mengatasi perubahan iklim, saat ini BRI memiliki flagship program BRI Menanam. Program BRI Menanam memberikan bibit tanaman produktif (seperti bibit pohon mangga, durian, alpukat, jambu, jeruk, saat nasabah mencairkan kreditnya.

Hingga akhir 2023, program BRI Menanam berhasil menanam 1,9 juta bibit di seluruh Indonesia, dengan estimasi penyerapan CO2e sebesar 875.013 kgCO2e.

Di samping itu, dalam hal pengelolaan emisi dari operasional perusahaan, Sunarso menjelaskan BRI mengadopsi global standard SBTi (Science-Based Target initiatives), yaitu mengimplementasikan inisiatif yang dapat menurunkan emisi dari kegiatan operasional maupun bisnis perusahaan, seperti penggunaan kendaraan listrik, pemasangan solar panel, penggunaan teknologi lain rendah emisi.

“BRI berkomitmen untuk terus mendorong ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan UMKM dengan ditopang oleh kapabilitas teknologi yang andal, serta berlandaskan asas-asas keberlanjutan baik dalam aspek bisnis maupun operasionalnya untuk memberikan kontribusi value beyond profit,” ungkap Sunarso.

Sunarso menegaskan bahwa apa yang menjadi visi, strategi, dan yang dikerjakan BRI sejalan dengan agenda prioritas yang concern internasional pada World Economic Forum.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Resep Sunarso Bikin Kinerja BRI Moncer & Cetak Laba Rp 29,5 T

(rah/rah)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *