BI Umumkan Suku Bunga Hari Ini, Bisa Dongkrak Rupiah?

Berita63 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah masih terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hari ini, Rabu (21/2/2024) Bank Indonesia (BI) bakal mengumumkan kebijakan suku bunga yang harapannya bisa mendongkrak rupiah.

Melansir dari Refinitiv, kemarin Selasa (20/2/2024) rupiah ditutup melemah di angka Rp15.655/US$ atau terdepresiasi 0,19%. Depresiasi ini merupakan yang terjadi dalam empat hari beruntun sejak 15 Februari 2024.

Pada hari ini, pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen yang akan menggerakkan pasar keuangan, baik dari dalam negeri ataupun luar negeri.

Sentimen dalam negeri akan datang dari keputusan bank sentral Indonesia atau Bank Indonesia terkait suku bunga.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 lembaga/institusi memperkirakan secara absolute bahwa BI akan menahan suku bunga acuan (BI rate) di level 6,00%.

Suku bunga Deposit Facility kini berada di posisi 5,25% dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.

Jika BI rate benar-benar kembali ditahan di level 6%, maka ini menjadi kali keempat BI menahan di level tersebut setelah menahan pada November, Desember, dan Januari. Sebelumnya, BI menaikkan suku bunganya pada Oktober 2023 sebesar 25 basis poin (bps) dari 5,75%.

Sebelumnya, pada Januari 2024 Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan keputusan menahan suku bunga ditempuh sebagai langkah konsistensi BI menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan, di tengah masih bergejolaknya ketidakpastian ekonomi global. Seiring dengan upaya untuk menjaga kinerja pertumbuhan ekonomi domestik pada tahun ini.

“Keputusan mempertahankan BI-Rate pada level 6,00% tetap konsisten dengan fokus kebijakan moneter yang pro-stability, yaitu untuk penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah serta langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1% pada 2024,” kata Perry saat konferensi pers di Kantor Pusat BI, Jakarta, Rabu (17/1/2024).

Baca Juga  Saat Bos OJK Jadi Emergency Contact dan Ditagih Tunggakan Paylater

Analis memperkirakan BI masih akan menahan suku bunga karena masih ketatnya suku bunga The Fed. Kondisi ini akan mempengaruhi permintaan dolar sehingga stabilitas rupiah masih bisa terguncang setiap waktu.

BI kemungkinan belum akan mengikuti kebijakan bank sentral China yang memangkas suku bunga kemarin. Analis memperkirakan BI akan memangkas suku bunga pada semester II-2024 ketika The Fed sudah menurunkan suku bunganya.

Sementara dari luar negeri, sentimen yang perlu diperhatikan adalah dampak keputusan suku bunga sentral China serta rilis rapat Federal Open Market Committee (FOMC).

Sebagaimana diketahui, pada kemarin People’s Bank of China (PBoC) mengumumkan memangkas suku bunga pinjaman lima tahun yang menjadi acuan untuk sebagian besar hipotek sebesar 25 basis poin menjadi 3,95%.

Sebagai catatan, pemangkasan tersebut lebih dari konsensus pasar yang hanya memperkirakan dipotong 15 basis poin.

Selanjutnya, pada Kamis dini hari waktu Indonesia (22/2/2024), The Fed akan merilis FOMC Minutes atau risalah rapat mereka pada Januari lalu. Risalah ini diharapkan bisa menjadi petunjuk bagi pelaku pasar mengenai kebijakan suku bunga ke depan.

Seperti diketahui, The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuan pada Januari 2024 di level 5,25-5,50%. Namun, mereka membuat pelaku pasar kecewa karena mengisyaratkan belum akan memangkas suku bunga pada Maret mendatang. Artinya, suku bunga The Fed yang masih tinggi bisa bertahan lebih lama lagi.

Teknikal Rupiah

Secara teknikal pergerakan rupiah masih cenderung sideways dalam melawan dolar AS. Dengan basis waktu per jam, mata uang Garuda masih potensi menguji resistance atau pelemahan terdekat ke Rp15.680/US$.

Resistance tersebut didapatkan dari garis horizontal berdasarkan high candle intraday pada 7 Februari 2024. Sementara itu, jika ada penguatan atau pembalikan arah yang terdekat bisa potensi menuju support terdekat di Rp15.640/US$.

Baca Juga  7.000 Nasabah OCBC NISP Hadiri Konser Ekslusif David Foster

Support tersebut didapatkan dari garis rata-rata selama 200 jam atau moving average 200 (MA200).

Foto: Tradingview
Pergerakan rupiah melawan dolar AS

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Jelang Rilis Suku Bunga BI, Mampukah Rupiah Libas Dolar AS?

(tsn/tsn)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *