Banyak Ketidakpastian, Rupiah Rawan Melemah ke Rp15.800/US$

Berita43 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Pelemahan rupiah dalam melawan dolar Amerika Serikat (AS) tampaknya masih bisa berlanjut pada hari ini, Selasa (26/3/2024) lantaran masih banyak ketidakpastian, ditambah efek musiman repatriasi dividen.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,13% pada perdagangan kemarin, Senin (25/3/2024) menuju angka Rp15.795/US$. Posisi ini merupakan yang terlemah sejak 29 Januari 2024.

Pelemahan rupiah terjadi seiring dengan tekanan dari menguatnya indeks dolar AS (DXY) dalam dua hari terakhir.

Kuatnya DXY disinyalir terjadi akibat data Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur AS mencapai level tertinggi dalam 21 bulan, yaitu 52,5 pada Maret 2024. Hal ini mengalahkan perkiraan pasar sebesar 51,7, menurut perkiraan awal. Angka tersebut menunjukkan peningkatan yang solid dalam sektor manufaktur, dibantu oleh peningkatan tajam dalam output dan lapangan kerja.

Selain itu, tingkat inflasi AS secara tahunan melonjak 3,2% untuk periode Februari 2024 dibandingkan bulan sebelumnya dan konsensus pasar sebesar 3,1%. Inflasi AS yang meningkat ini mengindikasikan bahwa target bank sentral AS (The Fed) untuk menurunkan inflasi ke level 2% semakin sulit tercapai.

Alhasil, potensi untuk pemangkasan suku bunga ke depan pun sulit untuk terjadi karena saat ini, fokus The Fed yakni ingin menurunkan inflasi hingga ke level yang sudah ditetapkan. Jika The Fed tidak menurunkan suku bunga, maka dolar AS akan tetap berada di level yang cukup tinggi dan tekanan terhadap rupiah akan terus ada.

Selain faktor eksternal, ada beberapa pengaruh dari domestik yang membuat rupiah merana, diantara secara seasonality setiap April – May merupakan musim repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri, kemudian ditambah persiapan lebaran akan meningkatkan impor lebih banyak.

Baca Juga  Saat Bos OJK Jadi Emergency Contact dan Ditagih Tunggakan Paylater

Akibatnya. aliran dana keluaran tampaknya masih akan cukup deras. Head of Equity Research Bahana Sekuritas, Satria Sambijantoro mengatakan sebagian besar pelemahan rupiah disebabkan oleh aliran uang keluar dari obligasi.

“Sebagian besar kelemahan mungkin berasal dari aliran keuangan, dengan pasar obligasi mencatatkan net-sell sebesar Rp8.2 triliun pada 18-21 Maret, dibandingkan dengan net buy sebesar Rp1.7 triliun di pasar ekuitas” ungkap Satria.

Satria melanjutkan “Untuk saat ini, BI kemungkinan akan meningkatkan intervensi valuta asing namun pelemahan rupiah lebih lanjut tidak boleh diabaikan jika imbal hasil US Treasury terus naik lebih tinggi, sehingga memicu lebih banyak arus keluar obligasi”

Teknikal Rupiah

Rupiah dalam melawan dolar AS rawan melemah ke level psikologis Rp15.800/US$, jika ini tertembus mata uang Garuda bisa lanjut melemah hingga posisi Rp15.840/US$ yang merupakan posisi paling merana sejak 26 Januari 2024.

Di sisi lain, jika ada pembalikan arah menguat, yang paling dekat diuji adalah support Rp15.775/US$ yang didapatkan dari garis rata-rata selama 20 jam atau Moving Average/MA 20.

Foto: Tradingview
Pergerakan rupiah melawan dolar AS

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Prabowo Menang Quick Count, Bagaimana Nasib Rupiah Hari Ini?

(tsn/tsn)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *