AS & Inggris Serang Houthi Yaman, Minyak Mendidih

Berita202 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak dibuka lebih rendah pada perdagangan pagi hari ini, setelah kenaikan 1% pada perdagangan sebelumnya efek dari kapal tanker menghindari Laut Merah setelah serangan terhadap Houthi.

Pada pembukaan perdagangan hari ini Senin (15/1/2024), harga minyak mentah WTI dibuka melemah 0,07% di posisi US$72,63 per barel, begitu juga dengan harga minyak mentah brent dibuka turun 0,19% di posisi US$78,14.


Pada perdagangan Jumat (12/1/2024), harga minyak mentah WTI ditutup menguat 0,92% di posisi US$72,68 per barel, begitu juga dengan harga minyak mentah brent terapresiasi 1,14% ke posisi US$78,29 per barel.

Harga minyak naik 1% pada perdagangan Jumat karena meningkatnya jumlah kapal tanker minyak yang mengalihkan jalur dari Laut Merah menyusul serangan udara dan laut semalam yang dilakukan AS dan Inggris terhadap sasaran Houthi di Yaman setelah serangan terhadap kapal-kapal oleh kelompok yang didukung Iran.

Meskipun pengalihan tersebut diperkirakan akan meningkatkan biaya dan waktu yang diperlukan untuk mengangkut minyak, namun pasokan minyak belum terkena dampaknya, menurut para analis dan pakar industri, sehingga mengurangi beberapa kenaikan harga sebelumnya.

Pada pekan kemarin, Brent turun 0,5% dan WTI turun 1,1%. Penurunan harga minyak yang tajam didorong oleh eksportir utama Arab Saudi dan peningkatan stok minyak mentah AS yang mengejutkan memicu kekhawatiran pasokan.

“Meskipun kurangnya pengiriman melalui Laut Merah, memang menciptakan masalah transportasi untuk beberapa pasokan minyak mentah, dampaknya terhadap pasar minyak fisik,” ujar Matt Stephani, presiden perusahaan penasihat investasi Cavanal Hill Investment Management, dilansir dari Reuters.

“Jika konflik menyebar ke wilayah lain di semenanjung Arab, pasar minyak mungkin akan bereaksi jauh lebih signifikan,” tambah Stephani.

Baca Juga  Harga Minyak Dunia Melemah Imbas Dolar AS Melonjak : Okezone Economy

Perusahaan tanker Stena Bulk, Hafnia (HAFNI.OL) dan Torm (TRMDa.CO) kompak mengatakan mereka telah memutuskan untuk menghentikan semua kapal yang menuju Laut Merah.

Namun, Kepala Otoritas Terusan Suez Osama Rabie mengatakan lalu lintas di kedua arah tetap teratur dan tidak ada kebenaran dalam laporan bahwa navigasi telah ditangguhkan karena perkembangan di Laut Merah.

Serangan AS dan Inggris ini dilakukan sebagai pembalasan atas serangan Houthi sejak Oktober terhadap kapal komersial di Laut Merah sebagai bentuk dukungan terhadap kelompok militan Palestina Hamas dalam perjuangannya melawan Israel.

Peningkatan ketegangan ini telah menimbulkan kekhawatiran bahwa perang Israel dan Hamas dapat meluas menjadi konflik yang lebih luas di Timur Tengah, sehingga mengganggu pasokan minyak. Iran menyita sebuah kapal tanker pada hari Kamis yang membawa minyak mentah Irak di selatan selat yang menuju Turki.

Militan Houthi juga secara keliru menargetkan sebuah kapal tanker yang membawa minyak Rusia dalam serangan rudal pada hari Jumat di lepas pantai Yaman, menurut perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey.

Pengalihan kapal tanker di sekitar Afrika Selatan juga akan menaikkan tarif angkutan karena kapal mengambil rute yang lebih panjang. Laut Merah, rute utama antara Eropa dan Asia, menyumbang sekitar 15% lalu lintas pelayaran dunia.

AS memperkirakan Houthi akan melakukan upaya pembalasan ketika AS dan Inggris menyerang di 30 lokasi berbeda di Yaman, menurut seorang pejabat senior militer AS.

Seorang juru bicara Houthi mengatakan kelompok itu akan terus menargetkan pengiriman menuju Israel. Iran memperingatkan bahwa serangan terhadap Houthi akan memicu “ketidakamanan dan ketidakstabilan” di kawasan, menurut media pemerintah Iran.

Arab Saudi menyerukan untuk menahan diri dan menghindari eskalasi, serta mengatakan pihaknya memantau situasi dengan penuh keprihatinan.

Baca Juga  Bank Amar Target Kredit Tumbuh di Atas 10%, Ini Strateginya

Hal lain yang mendukung harga minyak, dimana China membeli minyak mentah dalam jumlah tertinggi pada tahun 2023 karena permintaan mulai pulih dari kemerosotan yang disebabkan oleh pandemi meskipun terdapat hambatan ekonomi di negara konsumen energi terbesar dunia tersebut.

Premi kontrak Brent bulan pertama dibandingkan kontrak enam bulan LCOc1-LCOc7 naik hingga US$2,09 per barel pada hari Jumat, tertinggi sejak awal November, sebagai tanda bahwa pasar merasakan pasokan yang lebih ketat untuk pengiriman cepat.

Sementara dari sisi pasokan, Baker Hughes mengatakan jumlah rig minyak AS, yang merupakan indikator produksi di masa depan, turun dua menjadi 499 pada minggu ini.

Adapun dari Libya, juru bicara pengunjuk rasa yang mengancam akan menutup dua fasilitas minyak dan gas di Tripoli, bahwa mereka telah memutuskan untuk memperpanjang batas waktu penutupan fasilitas pada hari Jumat menjadi 24 jam karena ada negosiasi dengan mediator.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Ketegangan Laut Merah Mereda, Harga Minyak Dunia Ikut Surut

(saw/saw)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *