Ada Funding Gap, Bank Mulai Adu Ilmu Pertebal Simpanan Masyarakat

Berita37 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Likuiditas perbankan yang berasal dari dana pihak ketiga (DPK) tumbuh terbatas dalam beberapa waktu terakhir. Menurut data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), hal ini mendorong bank untuk mencari sumber dana alternatif. 

Sumber dana non-DPK dalam tren meningkat sejak Juli 2023. Per Januari 2024, sumber dana non-DPK naik 3,28% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 585,82 triliun.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai tren sumber dana non-DPK ini terjadi guna memenuhi permintaan kredit tinggi yang tidak dalam diikuti dengan pertumbuhan dana masyarakat yang dihimpun. Sebagaimana diketahui, dalam 5 bulan terakhir selisih pertumbuhan kredit dan DPK terbilang lebar. 

Terlebih sejak Desember 2023, kredit kembali tumbuh lebih dari 10% yoy. Pada periode yang sama DPK malah hanya naik kurang dari 5% yoy. 

“Saya melihat bank mulai melihat pendanaan non-DPK untuk memenuhi funding gap, di mana dalam kondisi pertumbuhan kredit lebih besar dari pertumbuhan DPK. Maka, bank perlu mencari sumber alternatif pendanaan seperti pendanaan non DPK,” ujarnya saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (20/3/2024).

Bankir pun buka suara terkait hal ini. Mereka mengaku lebih fokus pada peningkatan penghimpunan dana masyarakat.

Direktur Distribution and Institutional Funding Bank Tabungan Negara (BTN) Jasmin menyatakan pihaknya saat ini lebih mengutamakan transaksi retail dan wholesale dalam rangka meningkatkan dana murah atau current account savings account (CASA). Hal ini sekaligus juga akan mendongkrak laba seiring dengan naiknya pendapatan berbasis komisi atau (fee-based income).

“BTN saat ini lebih fokus untuk mengembangkan transaksi baik retail maupun wholesale untuk meningkatkan CASA dan FBI,” kata Jasmin saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (20/3/2024).

Baca Juga  Top! Jumlah Nasabah Kredit Mikro BRI Kalahkan Grameen Bank

Sebagai informasi, pertumbuhan DPK industri perbankan secara nasional hanya sebesar 3,8% yoy pada akhir tahun lalu, sedangkan DPK BTN tumbuh 8,7% menjadi Rp 349,93 triliun. Namun begitu, bank perumahan itu menargetkan pertumbuhan penyaluran kredit tahun ini sebesar 11% hingga 12% secara tahunan (yoy), hampir tidak berbeda dari realisasi pertumbuhan kredit 2023 sebesar 11,9% yoy.

Jasmin sebelumnya telah menjelaskan target kredit yang tidak meningkat itu karena BTN ingin menjaga rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) di bawah level 90%. Adapun, LDR BTN per Desember 2023, ketat yakni 95,36%

Senada, Bank CIMB Niaga juga menyatakan ingin fokus mengejar pertumbuhan dana masyarakat untuk menjaga likuiditas.

“Kami tetap memfokuskan DPK dulu mengingat likuiditas masih cukup ringan,” kata Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan ketika dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (20/3/2024).

Adapun CIMB Niaga berhasil menghimpun DPK sebesar Rp235,86 triliun pada akhir tahun lalu, tumbuh 3,81% yoy dari sebelumnya Rp227,18 triliun. Baik, giro, tabungan, dan deposito masing-masing mencatatkan pertumbuhan.

Rasio pinjaman terhadap simpanan pun meningkat semakin ketat menjadi 89,30% pada tahun 2023, dari yang sebelumnya 85,63%.

Pada awal tahun ini, Lani telah memaparkan kepada CNBC Indonesia sejumlah strategi menghimpun DPK tahun ini, yakni fokus menghimpun CASA yang berasal dari payroll, operating account, cash management, dan ekosistem termasuk digital.

Sama halnya dengan Bank Permata yang juga berupaya menghimpun DPK dengan meningkatkan CASA. Hal itu sebagai upaya untuk menjaga neraca PermataBank dan menjaga biaya CoF.

“PermataBank terus fokus dalam meningkatkan pendanaan yang stabil dan murah dalam bentuk Giro dan Tabungan (CASA) sebagai salah satu strategi mengoptimalkan komposisi neraca Bank dan menjaga cost of fund di tengah tantangan kompresi margin di industri perbankan Indonesia,” kata Direktur Keuangan PermataBank Rudy Basyir Ahmad kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (21/3/2024).

Baca Juga  Siapa Pendiri PT Indocement? Ternyata Ini Orangnya : Okezone Economy

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Bukti Baru Warga RI Makin Susah, Siang Malam Makan Tabungan

(mkh/mkh)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *